Setelah beberapa hari di sibukan dengan pekerjaan sampingan memanfaatkan libur akhir pekan dan libur May day, akhirnya saya bisa menulis lagi di hari minggu ini. Di  tulisan pertama saya kemarin sudah cukup jelas rasanya menceritakan kronologis bagaimana saya sampai di lamar oleh Diskominfo Pangandaran.

Nah pada bagian kedua ini saya akan menceritakan mengenai teknis pekerjaan dan berbagai pengalaman yang saya dapat selama bekerja 2 bulan terakhir ini. Seperti di ketahui sebelumnya saya mulai bekerja pada bulan Maret 2019, saya sudah cukup familiar dengan beberapa orang di Diskominfo Kabupaten Pangandaran, baik staf maupun pejabat lain nya, kebetulan sering bolak-balik ke Diskominfo untuk sekedar konsultasi ataupun pointing beberapa sub domain Dinas yang web nya saya kelola.

Sebelum masuk kerja pada hari-hari sebelumnya di sebuah mini market saya bertemu dengan sesosok bapak-bapak, yang sebenarnya saya sendiri kurang ngeh beliau itu siapa, tapi rasanya memang tidak asing. Dan beliau nyeletuk, “eh mas apa Kabar? mas ini yang aktif di Relawan TIK kan?” “Allhamdulillah Baik, Ia pak” Jawab ku. Tanpa ngobrol panjang lebar beliau pun bergegas pergi dari mini market waktu itu.

Keesokan harinya pas kerja di hari pertama saya bertemu lagi dengan bapak ini selepas dan mulai berkenalan dengan beliau, namanya Pak Sarno. Kemudian beliau menanyakan perihal aplikasi yang saya buat, dan menyarankan agar saya mempelajari beberapa aplikasi dan framework yang akan membantu menyelesaikan aplikasi yang saya buat. Saya cukup tercengang ketika berbincang-bincang dengan beliau, betapa pengetahuan nya sangat luas dan sangat up to date mengenai teknologi yang happening saat ini.

Ketika virtualisasi umumnya kita masih berkutat dengan VirtualBox dan Vmware, beliau udah sampai ngebahas Docker, “what the h**l” Hatiku bergumam, mengingat umurnya yang sudah tidak lagi muda, tapi semangat belajar dan mengajar nya seperti anak muda yang selalu haus akan ilmu dan informasi terbaru.

Saya pun sebenarnya sudah tidak asing lagi dengan Docker meskipun jarang sekali memakainya, mengingat tiap deploy web maupun aplikasi biasanya memang tidak memerlukan environment yang begitu kompleks, sehingga harus di package dengan Docker.

Beliau memberi saran untuk mempelajari, Geo Node, Geo Server dan PostGis, dan memberi beberapa referensi buku sehingga aplikasi yang saya buat nanti lebih interaktif. Untuk sekarang aplikasi yang saya buat dan akan di integrasikan di Dasboard Command Centre nanti adalah, “Pangandaran Actual Disaster Information” Atau disingkat dengan “PADI” memang nama ini sudah pernah di pakai sebelumnya untuk web BPBD kabupaten Pangandaran yang sebelumnya DPKPB, dan dikelola sepenuhnya oleh Pusdalops Kabupaten Pangandaran. Namun karena sub domain Padi sudah diganti karena menjadi bpbd mengikuti perubahan nomenklatur, dari pada mubazir akhirnya saya gunakan nama “PADI” Untuk project ini. Toh namanya kece dan gampang di ingat bukan?

Untuk visualisasi data kebencanaan pada Web Apps PADI ini saya menggunakan Tabel dan Chart dan memanfaatkan layanan dari Highchats seperti dapat di lihat pada gambar di atas, semuanya data kebencanaan bisa di upload dari Dashboard oleh operator. Aplikasi ini akan lebih sempurna bila sudah terintegrasi ataupun dilengkapi dengan GIS (bahasa inggris: Geographic Information System) atau Sistem Informasi Geografis sehingga Data Kebencanaan bisa lebih akurat kedepannya. Terima kasih banyak atas bimbingan nya Pak Sarno!

 

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of